Selasa, 29 Mei 2012

Cukup

"...dan barangsiapa merasa dirinya cukup, maka Allah akan mencukupkannya". (HR Bukhari Muslim) Masalah cukup dan tidak cukup sepertinya sering kali menjadi pertanyaan dalam diri gw sendiri. Kadang ada orang yang penghasilannya besar tapi mengeluh kurang terus dan ada yang penghasilannya biasa-biasa aja tapi orang itu bisa merasa bahagia. Jalan-jalan bersama keluarganya, berbagi dengan sesamanya, dan terpancar kebahagiaan dari wajahnya. Hmm...itulah kebahagiaan. Bukan diukur dari apa yang kita miliki tapi apa yang kita rasakan. Seperti hadis di atas. Dia merasa cukup sehingga Allah pun mencukupkannya. Mungkin yang dimiliki ga sebesar yang lain tapi dia selalu merasa cukup. Pernah baca sebuah kalimat dari seorang penulis, kalo ga salah kalimatnya "orang yang merasa cukup itu lebih mudah berbagi". Begitulah kurang lebih kalimatnya mohon dimaafkan. hehe...Jadi orang yang biasa-biasa aja akan jadi cukup (luar biasa) saat dia merasa cukup dan mau berbagi apa yang dimiliki. Kan ngga harus berlebih dulu baru berbagi. kan yang dibagi itu ngga akan berkurang. Seperti sedekah yang bisa berlipat ganda hingga 700 kali lipat bahkan lebih sesuai kehendakNya. Kalo ngomong soal cukup mah ngga akan ada habisnya. Jadi merasa cukuplah kawan, maka Dia-lah yang akan mencukupkan segala kebutuhanmu. Selalu yakin atas janjiNya dan teruslah berharap kepadaNya. Selamat belajar :)

Minggu, 20 Mei 2012

Melepas

Awal bulan April lalu ada sebuah tawaran, tawaran mewujudkan impian yang sudah beberapa tahun ini memang saya inginkan. Konspirasi seluruh alam itu terlihat. Selangkah lagi, jika saja saya menjawab "ya" atas peluang itu. Namun akhirnya saya memilih melepaskan impian itu. Hmm...bukan berarti mengubur impian yang saya miliki. Tapi saya berharap Allah menyiapkan jalan lain untuk mewujudkan impian itu. Sehingga saya tidak harus mengecewakan salah satu pihak.

I promise

I Promise Myself… To be so strong that nothing can disturb my peace of mind. To talk health, happiness, and prosperity to every person I meet. To make all my friends feel that there is something worthwhile in them. To look at the sunny side of everything and make my optimism come true. To think only of the best, to work only for the best and to expect only the best. To be just as enthusiastic about the success of others as I am about my own. To forget the mistakes of the past and press on to the greater achievements of the future. To wear a cheerful expression at all times and give a smile to every living creature I meet. To give so much time to improving myself that I have no time to criticize others. To be too large for worry, too noble for anger, too strong for fear, and too happy to permit the presence of trouble. To think well of myself and to proclaim this fact to the world, not in loud words, but in great deeds. To live in the faith that the whole world is on my side, so long as I am true to the best that is in me. Christian D. Larson {I Promise Myself}

Minggu, 25 Maret 2012

terpelajar

“Seorang dikatakan terpelajar bukanlah ditentukan dari seberapa tingginya ia menempuh pendidikan, tapi ia bisa dikatakan terpelajar bila dengan ilmu yang ia miliki, ia mampu untuk membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik.”
Bukhori Nasution

Kamis, 23 Februari 2012

Inginku

Saat peluhmu mengalir ingin kubasuhnya
saat kau rasa pedih ingin kuobatinya
saat kau rasa lelah ingin kuberikan bahu ini untuk kau sandari
saat dingin menyelimuti ingin kuberi dekapan hangatku
saat keluh terlontar ingin kutemukan jalan keluarnya
Allah seberapa pun ingin yang kulakukan penjagaanMu adalah sebaik-baik penjagaan
Jagalah ia, lindungilah ia, jaga hatinya, dan sesungguhnya Engkau yang paling mengetahui apa yang ia butuhkan.
Semoga aku dapat mencintainya karenaMu.

23 Feb 2012
11:40

Jumat, 13 Januari 2012

Pilihan

Tak pantas rasanya diri ini memilih dari pilihan-pilihan yang hadir di hadapan diri tanpa bertanya padaNya
Maka pilihkanlah yang terbaik menurutMu, Ya Allah
Engkau Maha Mengetahui apa-apa yang terbaik untuk hambaMu
Kunanti pilihan terbaikMu
Kujalani, kuterima, dan kucintai sepenuh hati
Ajari aku mencintainya karenaMu

Senin, 26 September 2011

Cerita Minggu Siang

Sepulangnya dari team building AF siang kemarin, saat memasuki pintu rumah dan mengucapkan salam. Kudapati mamah terbaring di kasur kecil di ruang tengah, ada bapak dan Indah yang menemani.

Aku: “Mamah kenapa???”, Tanyaku sambil terkejut
Bapak: “Jatoh di kamar mandi”, Jawab bapak.
Aku: “ Kapan? Kok bisa?”
Bapak: “Tadi pas bapak pulang subuh udah jatoh. Katanya gelap matanya, puyeng”.
Aku: *Menahan tangis

Ya Allah…Ada apa lagi dengan mamah? Ingin menangis rasanya saat melihatnya harus kembali merasakan sakit. Baru beberapa hari lalu dia mengumumkan kebahagiaan dan syukurnya setelah sembuh dari sakitnya sebulan lalu serta telah diwisudanya diriku. Namun hari ini aku kembali melihatnya terbaring, menahan sakit karena luka di tubuhnya.

Allah…jagalah ia saat penjagaanku tak mampu melindunginya, sayangilah ia saat sayangku tak cukup untuknya, dan berilah ia kesehatan agar hatiku tenang saat tidak berada di sampingnya. Tidak hanya mamah, tapi juga bapak, adik-adik, dia, dan semua orang-orang yang kusayangi.

Jumat, 26 Agustus 2011

For U

Ada yang berbeda sejak satu minggu lalu. Kami saling terbuka satu sama lain tentang apa yang kami rasakan. Senangnyaaa...
Hanya meminta kepadaNya jika memang ini yang terbaik agar dilancarkan semua jalannya.
Ingin belajar mencintainya karenaNya.
Cinta yang sederhana dengan rasa sayang, ketulusan, kepercayaan, pengertian, perhatian, kesetiaan, dan segala warna dalam rasa ini untukmu dan semoga selalu karenaNya. ^_^

Senin, 15 Agustus 2011

Galau

Bingung...saya sedang bertanya-tanya kepada diri ini, apa yang sebenarnya sedang saya rasakan? beberapa hari ini tidak bisa tidur sebelum jam 12 malam. Saya baru bisa tidur setelah jam 1 atau jam 2 malam. Padahal jam setengah 4 atau paling lambat jam 4 sudah harus bangun. Kadang semua itu membuat saya bangun lebih siang, jam 9 atau 10 pagi. Huaaa...hal yang benar-benar tidak saya sukai. Selain itu saya jadi lupa beberapa agenda. Sejak beberapa hari lalu saya sudah konfirmasi hadir acara buka puasa bersama koperasi mahasiswa FIB hari Senin. Entah mengapa, saya mengiyakan untuk hadir buka puasa bersama dengan teman-teman pejuang skripsi semester 8 di jurusan saya di waktu yang sama. Saya baru menyadari itu malam hari sebelum hari H. Hari ini, saya baru ingat kalau saya harus mengirim pesan ke semua sukarelawan dan anak asuh AF untuk agenda besok sore dan menanyakan kepada anak asuh tentang libur atau tidaknya mereka terkait agenda training hari Sabtu. Seharusnya kedua hal itu saya lakukan kemarin. Entah mengapa saya sama sekali lupa hal itu. Baru ingat sore tadi. Piuh...saya merasa bersalah sempat lupa hal ini. Bagaimana saya bisa lupa dengan beberapa hal yang harus saya lakukan itu. Terlalu lelahkah??? tapi sepertinya tidak. Terlalu banyak yang saya pikirkan kah??? tidak juga. Hmm...mungkin memang ada masanya seperti ini dan sekarang saya sedang mengalami itu. Semoga segera berakhir. Semoga besok pagi semua ini sudah selesai. Saya akan coba menuliskan setiap janji yang telah saya buat. Saya akan memaksakan diri ini untuk tidur lebih awal dan bangun lebih awal. SAYA PASTI BISA!!! PASTI BISA!!! SEMANGAT RISKA!!! Semua akan segera berlalu.

Minggu, 14 Agustus 2011

Cinta, Benci, dan Sayang

Entah untuk keberapa kalinya...lagi-lagi saya post tulisan tentang komentar saya terhadap kejadian di sekitar saya. Ingin rasanya post tulisan ilmiah di blog, tapi belum sempat juga. Hehe...
Kali ini saya ingin bercerita tentang cinta, benci, dan sayang. Hmmm...ya seputar ketiga kata itu. Pertama tentang cinta. Sekitar setahun lalu, saya mendapati senyum kebahagiaan terukir di wajah teman saya. Setiap hari entah berapa puluh pesan singkat diterimanya. Pesan yang berasal dari satu nomor kontak. Seseorang yang mewarnai hari-harinya dengan sebuah rasa yang disebut cinta. Hari, minggu, dan bulan pun berlalu. Sepertinya setiap hari yang dilalui begitu indah. Saling memberikan perhatian, semangat, nasehat, dan banyak hal. Bahkan merencanakan masa depan bersama. Wah...senang melihatnya. Saya hanya berharap apa yang sedang mereka alami dan rasakan akan selalu terjaga. "Kapan ya saya bisa seperti itu?", peertanyaan yang kadang terlintas di benak saya. hahaha...
Beberapa bulan lalu, teman saya itu tiba-tiba bercerita tentang masalah yang dihadapinya. Masalah yang sedang melanda hubungan dia dengan kekasihnya. Hubungan meraka yang sudah tidak bisa dilanjutkan lagi tanpa alasan yang jelas. Selang beberapa hari setelah dia bercerita kepada saya, hubungan mereka benar-benar berakhir. Dia mengirim pesan singkat kepada saya mengabarkan tentang hal itu. Tidak banyak yang bisa saya lakukan. Menasehati pun, itu bukan hal yang bisa dengan baik saya lakukan. Karena saya sendiri belum pernah mengalami hal itu. Saya hanya bisa berkata, "mungkin itu yang terbaik untuk mereka dan pasti ada yang lebh baik yang sudah disiapkan olehNya". Airmata pun tak hentinya mengalir dari mata indah teman saya itu. Kekasihnya sudah begitu larut masuk ke dalam kehidupannya dan mengisi hari-harinya. Hingga setelah hubungan mereka berakhir, hari yang dilalui teman saya itu terasa sepi sekali. Sedih melihatnya. Hal ini yang saya khawatirkan sejak mereka menjalin hubungan. Saya khawatir melihat teman saya begitu tenggelam dalam perasaanya. Berkali-kali dan tidak bosan saya mengingatkan. Dia pun menyadari hal itu. Tapi jawaban yang saya dapatkan pun tetap sama. Menurutnya dan saya juga agak membenarkan, orang yang sedang jatuh cinta itu kadang lupa akan rasa sakit yang nanti akan terjadi. Mereka terlalu terlena dengan rasa yang sedang mereka rasakan. Yayaya...begitukah teman-teman???
Sekitar 2 hari lalu, teman saya kembali mengirim sms kepada saya. Sms galau (begitulah istilah yang sedang marak digunakan akhir-akhir ini) dikirimkannya kepada saya. Dia bertanya kepada saya, apakah sebaiknya dia membenci mantan kekasihnya itu. Karena dia rasa mereka seolah-olah saling menyakiti. Bingung dan serba salah saya menjawabnya. Saya belum pernah mengalami hal seperti itu dan saya rasa solusi yang akan saya berikan masih dalam tataran teori. Piuh...saya hanya berkata, apakah dengan membenci akan membuat lebih baik? bukan kah ada cara yang lebih baik dari membenci. Dia hanya perlu mengikhlaskan semua yang telah terjadi. Ikhlas memang tidak mudah dilakukan tapi bukan berarti tidak bisa. Hoho...benar-benr teoritis sepertinya. Tapi saya rasa itu merupakan langkah terbaik. Kami pun saling mengirim pesan singkat dan saya berusaha meyakinkannya agar dapat melewati semua ini dengan baik. Hingga akhirnya dia berkata bahwa dia bisa melakukannya dan cukup dengan perhatian dari orang-orang di sekitarnya. Tapi ada satu hal baru yang pagi ini saya temui ketika sedang berkumpul dengannya. Rupanya dia sudah enggan menyebut nama mantan kekasihnya itu dengan berbagai alasan yang tidak ingin dijelaskannya kepada saya dan teman-teman yang lain. Nama yang sempat melukis senyum di wajahnya, nama yang hampir ada di setiap cerita yang diceritakannya kepada saya dan teman-teman yang lain, nama yang mengisi hari-harinya dengan cinta. Saya jadi bertanya kembali, cinta kah yang mereka rasakan itu???
Melihat semua kejadian itu saya jadi ingat nasehat seorang kakak dan beberapa teman saya. Cinta dan benci itu bedanya sangat tipis. Lebih baik menyayangi. Sayang itu lebih indah, seperti Allah yang menyayangi makhluknya. Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Menyayangi lebih tulus dan lebih luas. Sayang sudah pasti cinta, begitu kata salah seorang teman saya. Jadi mau pilih yang mana?hehehe...Melihat kejadian yang terjadi pada beberapa teman saya dan juga dengan saudara saya sendiri, saya semakin ingin meminta agar keinginan dan doa saya selama ini dikabulkan olehNya. Agar saya bisa menyayangi dan mencintai seseorang itu dengan tulus karenaNya. Saya sendiri belum terlalu paham bagaimana yang disebut mencintai seseorang karenaNya. Tapi saya hanya ingin agar perasaan yang saya miliki untuk orang itu benar-benar terjaga. Agar hal yang dialami oleh teman-teman saya tidak akan saya alami. Agar Dia dan teman-teman yang ada di sekeliling saya selalu mengingatkan saya saat perasaan itu mulai berlebihan. Karena saya tidak ingin ada yang terluka dan semua dapat saling merasakan kebahagiaan. Semoga Allah mengabulkan. :)

Sabtu, 13 Agustus 2011

Tentang"nya"

Beberapa tahun lalu, saat aku masih memakai seragam putih abu-abu, saat aku masih cupu (ngga gaul, norak, ndeso mungkin persamaannya), saat aku baru mengenal novel-novel Islami, atau pun majalah-majalah Islami (begitulah label Islami melekat di beberapa tulisan yang aku baca).
Saat itu aku pertama kali mengenalmu, melalui sebuah cerita tentang seorang perempuan yang menghabiskan sorenya di masjidmu. "Senja di Masjid Biru", judul cerita pendek yang aku baca ketika itu. Cerita yang mampu berkali-kali membuatku meneteskan airmata saat membacanya. Tentang kasih sayang yang tercipta antara seorang perempuan dan kakek pelukis yang belum lama dikenalnya.
Sekitar satu setengah tahun lalu, aku mempelajari bahasa yang dituturkan oleh masyarakatmu. Aku begitu menyukainya. Pernah suatu ketika temanku berkata, saat kita mempelajari bahasa suatu negara, yakinlah bahwa suatu saat nanti kita akan bisa ke negara itu. Keyakinan itu, rasa cinta yang tiba-tiba tumbuh saat itu membuatku penuh semangat untuk bisa bertemu denganmu. Merasakan senja di masjidmu. Oktober tahun lalu, aku berkunjung ke kedutaan besarmu di tanah airku. Berharap tahun ini aku bisa berkunjung ke negaramu, belajar di sana, dan tak lupa mengunjungi kedutaan besarku di negaramu. April tahun lalu, aku mencoba ikut seleksi untuk bisa menghabiskan liburan musim panasku di negaramu selama dua bulan. Namun belum kutemukan jawaban "ya" atas usahaku. Rindu, sayang, dan kehausan untuk menuntut ilmu di negaramu semakin besar.
Pintaku di Ramadhan tahun ini: Allah, izinkan aku belajar di Turki. Aamiin. :)

Minggu, 31 Juli 2011

Selamat Datang Ramadhan

Marhaban Yaa Ramadhan...
selamat datang Ramadhan. Selamat datang rahmat, berkah, kesucian, limpahan cinta dan kasih sayangNya, dan lautan pahala atas ibadah-ibadah kepadaNya. Sungguh, seluruh umat Islam di dunia ini telah amat sangat merindukanmu, Ramadhan. Semua menyimpan segala rindu, cinta, semangat, dan segala potensi terbaik yang mereka dapat lakukan untuk mengisi perjalanan bersamamu.

Menulis

Sore ini saya melihat status teman saya sebuah situs jejaring sosial tentang "menulis". Dia berkata ingin memenuhi bulan ini dengan menulis, ya...menulis tentang banyak hal. Tulisan itu mengingatkan saya pada sebuah keinginan. Keinginan yang memang sampai saat ini selalu hidup dalam hati dan pikiran saya. Keinginan yang terkadang terbentur oleh berbagai aktivitas sehingga sempat terpinggirkan. Saya ingin menulis. Selalu dan akan selalu ingin menulis. Di bulan ini saya juga ingin menulis. Menulis banyak hal, warna-warni kehidupan saya, hikmah yang dapat saya ambil dari sebuah peristiwa, menulis tentang apa yang saya ingin lakukan, menulis tentang harapan, menulis tentang negara yang ingin saya kunjungi, menulis tentang orang-orang yang saya cintai, menulis Ramadhan yang lebih baik dari sebelum-sebelumnya, menulis tentang semua rasa dan hal yang ingin saya lakukan. Menulis senyum-senyum kebahagian orang-orang yang saya cintai, menulis indahnya silaturahim dengan sesama, menulis indahnya berbagi dengan sesama, menulis luasnya impian yang saya miliki, menulis luasnya hamparan kasih sayang dan nikmatNya, menulis setiap hela nafas, kedipan mata, detak jantung, gerak langkah kaki dan tangan, aroma dunia, suara alam, dan kejernihan pikiran.

Memperbaiki isi dan tampilan blog ini. Hehe...karena dengan menulis, hidup menjadi lebih hidup. Tulisanmu mengalihkan duniaku. :)

Selasa, 26 Juli 2011

Protes

Kali ini saya hanya ingin mengungkapkan protes dalam hati saya. Hehehe...kesal, sebal, atau geregetan entahlah apa itu namanya. Hal itu teradi ketika melihat home di salah satu account situs jejaring sosial yang saya miliki jadi dipenuhi atau sering terlihat post dari dunia percintaan orang-orang di friend list saya. Beberapa bulan/minggu sebelumnya dia menuliskan kata-kata rayuan, romantis, kangen-kangenan, sayang-sayangan, dan beratus atau bahkan beribu gombalan tercanggih mungkin yang kadang benar-benar menimbulkan tawa (haduh...jahat ngga yah saya menertawakan mereka? hehehe). Tapi belum lama ini saya melihat seseorang yang tadinya memenuhi statusnya dengan kata-kata untuk kekasihnya, halaman punya kekasihnya dipenuhi oleh kata2 penyemangat darinya malah berbalik jadi kata-kata yang mengharap, memohon, keputusasaan, atau bahkan caci makian. Piuh...bener-bener aneh. Cinta yang mereka rasakan itu bisa berubah begitu cepat yah? apakah itu cinta yang dilandasi hawa nafsu? bukan cinta karenaNya, bukan cinta yang tulus menerima seseorang itu apa adanya. Tidak hanya dari tulisan-tulisan, terkadang status 'single', 'in relationship', 'married', 'engaged', dan lainnya kadang diubah-ubah seenaknya. Kejadian ini tidak hanya terjadi pada anak-anak SMP, SMA, universitas, bahkan yang sudah bekerja pun seperti itu. Piuh...bener-bener deh, kalau sudah dipenuhi oleh tulisan-tulisan semacam ini saya rasanya ingin me-remove mereka saja. (Hihihi...tapi kadang lucu juga sih. Kok lucu???).

Saya tidak akan merasa terganggu ketika yang menuliskan memang sudah berkeluarga. Kan jadinya senang melihatnya. Wah...romantis ya, wah...harmonis ya, dan blablabla lainnya jika memang mereka sudah menikah. Cintanya memang sudah sah dan wajar saja. Tapi jika masih berpacaran. Hedeh...Ya sudahlah, itu kan pilihan mereka. Mungkin itu cara mereka mengurangi beban yang mereka rasakan, cara mereka berbagi perasaan suka dan bahagia yang ada dalam diri mereka. Sekian protes yang kadang berlarian dalam pikiran saya ketika melihat kejadian-kejadian seperti yang telah saya ungkapkan di atas. hehehe...Mohon maaf kalau ada yang merasa tersinggung.

Senin, 25 Juli 2011

Bunga Kemuning

Beberapa menit lalu, adik bungsu saya tiba-tiba datang ke kamar saya. Dia berkata, "Teh Ika, cariin tugas Indah dong. Ada yang ngga tau, di buku yang teh ika beliin ngga ada". Seperti biasa, sambil ngenet saya cari deh bahan yang dibutuhkan olehnya. Yap...ciri-ciri khusus tentang bunga gitu deh. Pas cari ciri-ciri bunga kemuning tiba-tiba menemukan blog yang isinya dongeng-dongeng. Saya jadi tertarik untuk membacanya. Seruuu ternyata, pertama saya membaca tentang legenda bunga kemuning. Ketika saya lihat judul lainnya di halaman itu semakin membuat saya kagum dengan dongeng-dongeng dan cerita yang lainnya. Berikut dongeng yang saya baca.



Dahulu kala, ada seorang raja yang memiliki sepuluh orang puteri yang cantik-cantik. Sang raja dikenal sebagai raja yang bijaksana. Tetapi ia terlalu sibuk dengan kepemimpinannya, karena itu ia tidak mampu untuk mendidik anak-anaknya. Istri sang raja sudah meninggal ketika melahirkan anaknya yang bungsu, sehingga anak sang raja diasuh oleh inang pengasuh. Puteri-puteri Raja menjadi manja dan nakal. Mereka hanya suka bermain di danau. Mereka tak mau belajar dan juga tak mau membantu ayah mereka. Pertengkaran sering terjadi di antara mereka.

Kesepuluh puteri itu dinamai dengan nama-nama warna. Puteri Sulung bernama Puteri Jambon. Adik-adiknya dinamai Puteri Jingga, Puteri Nila, Puteri Hijau, Puteri Kelabu, Puteri Oranye, Puteri Merah Merona dan Puteri Kuning, Baju yang mereka pun berwarna sama dengan nama mereka. Dengan begitu, sang raja yang sudah tua dapat mengenali mereka dari jauh. Meskipun kecantikan mereka hampir sama, si bungsu Puteri Kuning sedikit berbeda, ia tak terlihat manja dan nakal. Sebaliknya ia selalu riang dan dan tersenyum ramah kepada siapapun. Ia lebih suka berpergian dengan inang pengasuh daripada dengan kakak-kakaknya.

Pada suatu hari, raja hendak pergi jauh. Ia mengumpulkan semua puteri-puterinya. “Aku hendak pergi jauh dan lama. Oleh-oleh apakah yang kalian inginkan?” tanya raja.

“Aku ingin perhiasan yang mahal,” kata Puteri Jambon.

“Aku mau kain sutra yang berkilau-kilau,” kata Puteri Jingga. 9 anak raja meminta hadiah yang mahal-mahal pada ayahanda mereka. Tetapi lain halnya dengan Puteri Kuning. Ia berpikir sejenak, lalu memegang lengan ayahnya.

“Ayah, aku hanya ingin ayah kembali dengan selamat,” katanya. Kakak-kakaknya tertawa dan mencemoohkannya.

“Anakku, sungguh baik perkataanmu. Tentu saja aku akan kembali dengan selamat dan kubawakan hadiah indah buatmu,” kata sang raja. Tak lama
kemudian, raja pun pergi.

Selama sang raja pergi, para puteri semakin nakal dan malas. Mereka sering membentak inang pengasuh dan menyuruh pelayan agar menuruti mereka. Karena sibuk menuruti permintaan para puteri yang rewel itu, pelayan tak sempat membersihkan taman istana. Puteri Kuning sangat sedih melihatnya karena taman adalah tempat kesayangan ayahnya. Tanpa ragu, Puteri Kuning mengambil sapu dan mulai membersihkan taman itu. Daun-daun kering dirontokkannya, rumput liar dicabutnya, dan dahan-dahan pohon dipangkasnya hingga rapi. Semula inang pengasuh melarangnya, namun Puteri Kuning tetap berkeras mengerjakannya. Kakak-kakak Puteri Kuning yang melihat adiknya menyapu, tertawa keras-keras. “Lihat tampaknya kita punya pelayan baru,” kata seorang diantaranya.

“Hai pelayan! Masih ada kotoran nih!” ujar seorang yang lain sambil melemparkan sampah. Taman istana yang sudah rapi, kembali acak-acakan. Puteri Kuning diam saja dan menyapu sampah-sampah itu. Kejadian tersebut terjadi berulang-ulang sampai Puteri Kuning kelelahan. Dalam hati ia bisa merasakan penderitaan para pelayan yang dipaksa mematuhi berbagai perintah kakak-kakaknya.

“Kalian ini sungguh keterlaluan. Mestinya ayah tak perlu membawakan apa-apa untuk kalian. Bisanya hanya mengganggu saja!” Kata Puteri Kuning dengan marah.

“Sudah ah, aku bosan. Kita mandi di danau saja!” ajak Puteri Nila. Mereka meninggalkan Puteri Kuning seorang diri. Begitulah yang terjadi setiap hari, sampai ayah mereka pulang. Ketika sang raja tiba di istana, kesembilan puterinya masih bermain di danau, sementara Puteri Kuning sedang merangkai bunga di teras istana. Mengetahui hal itu, raja menjadi sangat sedih.

Anakku yang rajin dan baik budi! Ayahmu tak mampu memberi apa-apa selain kalung batu hijau ini, bukannya warna kuning kesayanganmu!” kata sang raja. Raja memang sudah mencari-cari kalung batu kuning di berbagai negeri, namun benda itu tak pernah ditemukannya.

“Sudahlah Ayah, tak mengapa. Batu hijau pun cantik! Lihat, serasi benar dengan bajuku yang berwarna kuning,” kata Puteri Kuning dengan lemah lembut.

“Yang penting, ayah sudah kembali. Akan kubuatkan teh hangat untuk ayah,” ucapnya lagi. Ketika Puteri Kuning sedang membuat teh, kakak-kakaknya berdatangan. Mereka ribut mencari hadiah dan saling memamerkannya. Tak ada yang ingat pada Puteri Kuning, apalagi menanyakan hadiahnya.

Keesokan hari, Puteri Hijau melihat Puteri Kuning memakai kalung barunya. “Wahai adikku, bagus benar kalungmu! Seharusnya kalung itu menjadi milikku, karena aku adalah Puteri Hijau!” katanya dengan perasaan iri.

“Ayah memberikannya padaku, bukan kepadamu,” sahut Puteri Kuning. Mendengarnya, Puteri Hijau menjadi marah. Ia segera mencari saudara-saudaranya dan menghasut mereka.

“Kalung itu milikku, namun ia mengambilnya dari saku ayah. Kita harus mengajarnya berbuat baik!” kata Puteri Hijau. Mereka lalu sepakat untuk merampas kalung itu. Tak lama kemudian, Puteri Kuning muncul. Kakak-kakaknya menangkapnya dan memukul kepalanya. Tak disangka, pukulan tersebut menyebabkan Puteri Kuning meninggal.

“Astaga! Kita harus menguburnya!” seru Puteri Jingga. Mereka beramai-ramai mengusung Puteri Kuning, lalu menguburnya di taman istana. Puteri Hijau ikut mengubur kalung batu hijau, karena ia tak menginginkannya lagi. Sewaktu raja mencari Puteri Kuning, tak ada yang tahu kemana puteri itu pergi. Kakak-kakaknya pun diam seribu bahasa. Raja sangat marah. “Hai para pengawal! Cari dan temukanlah Puteri Kuning!” teriaknya.

Tentu saja tak ada yang bisa menemukannya. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, tak ada yang berhasil mencarinya. Raja sangat sedih. “Aku ini ayah yang buruk,” katanya.” Biarlah anak-anakku kukirim ke tempat jauh untuk belajar dan mengasah budi pekerti!” Maka ia pun mengirimkan puteri-puterinya untuk bersekolah di negeri yang jauh. Raja sendiri sering termenung-menung di taman istana, sedih memikirkan Puteri Kuning yang hilang tak berbekas.

Suatu hari, tumbuhlah sebuah tanaman di atas kubur Puteri Kuning. Sang raja heran melihatnya. “Tanaman apakah ini? Batangnya bagaikan jubah puteri, daunnya bulat berkilau bagai kalung batu hijau, bunganya putih kekuningan dan sangat wangi! Tanaman ini mengingatkanku pada Puteri Kuning. Baiklah, kuberi nama ia Kemuning.!” kata raja dengan senang. Sejak itulah bunga kemuning mendapatkan namanya. Bahkan, bunga-bunga kemuning bisa digunakan untuk mengharumkan rambut. Batangnya dipakai untuk membuat kotak-kotak yang indah, sedangkan kulit kayunya dibuat orang menjadi bedak. Setelah mati pun, Puteri Kuning masih memberikan kebaikan.

sumber:http://dongeng.org/dongeng/hikayat-bunga-kemuning.html

Dikirim oleh: arnaxxx@ymail.com
Facebook: http://www.facebook.com/profile.php?ref=name&id=1282807008


Masih banyak dongeng dan cerita lainnya. silahkan kunjungi link-nya. Bukan promosi dengan bayaran lho...hehehe. Hanya berbagi saja. Semoga bermanfaat. :)

Selasa, 19 Juli 2011

Dibohongi teman???

Sedih...
sekitar seminggu lalu saya meminta tolong kepada seorang teman. Teman yang saya rasa cukup mampu, ya memang dia memiliki kemampuan dalam hal yang saya perlukan. Hingga akhirnya ucapan terima kasih, ungkapan syukur atas bantuan yang diberikannya kepada saya berubah menjadi sebuah tanda tanya besar bahkan teramat besar. Saya benar-benar tidak menyangka dia melakukannya pada saya. Mungkin tidak perlu saya ungkapkan kepada siapa pun. Saya hanya ingin bercerita kepadaNya. Jika memang apa yang dia lakukan pada saya secara sadar, saya hanya meminta kepadaNya agar teman saya dibukakan pintu hatinya.

Hanya ingin berbagi tentang apa yang saya dapat dari kejadian tersebut.
Jika memang telah menyanggupi untuk membantu teman atau siapa pun itu, bantulah dia dengan sebenar-benarnya bantuan yang kamu bisa berikan. Jika tidak bisa lebih baik bilang tidak. Kalau kamu membantu dengan asal-asalan, tidak sepenuh hati dan akhirnya dia mengetahui apa yang telah kamu lakukan. Pasti dia akan kecewa dan tidak menutup kemungkinan dia akan kehilangan kepercayaan kepadamu. Kalau sudah seperti itu kamu hanya akan menambah masalah bukan menyelesaikan masalah.

Sabtu, 16 Juli 2011

Dialog Singkat

Malam ini...pulang dari Depok, mencari counter pulsa yang masih buka. Yap...akhirnya ada juga di deket rumah. Beli deh pulsa. Saat di penjual pulsa tersebut terjadilah dialog singkat dengan teman kecil saya yang kebetulan sedang duduk di tempat penjual pulsa tersebut.

Teman : Kok sendirian, biasanya dianterin?
Saya : Dianterin bapak? ngga. lagi sendirian aja.
Teman : Bukan, yang pake beat itu lho...
Saya : Oh itu...itu mah ade.
Teman : Oh...pacarnya adenya?
Saya : Iya
Teman : Oh..bukan Ika. Ika mana?
Saya : *nyengir-nyengir aja dah

Dalam hati:
1. Sebegitu miripnya kah saya dengan adik saya??? sampe dibilang yang dianterin itu saya. atau memang sengaja mancing2 jawaban saya yang cuma nyengir2 aja.
2. Ternyata tetangga itu pemerhati juga yah? sampe dianterin sama siapa dan pake motor apa bener2 jelas. ckckck..heu...

Selasa, 21 Juni 2011

Bapak Hebat

Saya tahu sejak beberapa minggu lalu tidurnya tidak lelap. Selalu terbangun untuk menemani istri tercintanya yang sedang sakit. Saya tahu setiap hari dia masih menyempatkan mengantar kedua anaknya, yang bungsu pergi ke sekolah dan anak keduanya pergi bekerja. Saya tahu dia harus bekerja sama dengan anak pertamanya menjaga istrinya yang tengah sakit. Saya tahu dia dengan sangat baik memikul tanggung jawab sebagai seorang bapak dan ibu bagi anak-anaknya selama sang istri sakit. Saya pun tahu semua itu tak mudah baginya.



Pagi ini dia meminta saya mengantar sang istri ke pusat kesehatan masyarakat bersamanya. Tubuh sang istri begitu lemah. Sejak semalam semua makanan yang masuk dikeluarkan lagi dan membuatnya tidak tidur sepanjang malam. Entah karena obat yang tidak cocok atau karena kondisinya yang benar-benar tidak stabil. Dua buah jarum suntik menembus kulit tubuhnya yang lemah. Beberapa bungkus obat pun diberikan oleh petugas kesehatan. Ternyata tubuhnya sudah tidak kuat lagi untuk bergerak. Hingga dibawa ke ruangan istirahat. Dua botol cairan infus pun dihabiskan hingga tengah hari. Saya menjaga di dalam ruangan. Kemudian saat keadaan sudah agak tenang dan dia sudah tertidur pulas saya menemui sang bapak di luar ruangan. Terlihat guratan kekhawatiran di wajahnya. Di sela-sela kecemasannya dia masih sempat menanyakan kepada kepada anak sulungnya tentang tugas akhir sang anak. Percakapan singkat pun terjadi diantara keduanya.



Bapak: Ika, gimana tugas kuliahnya? Masih banyak yang dikerjain?

Anak: Masih pak. Deadlinenya minggu depan. Ya udah biarin aja nanti ika kerjain.

Bapak: Pulang aja udah. Biarin nanti mamah sama bapak.

Anak: Nanti gimana pulangnya. Ngga ada yang bantuin. Udah ngga apa-apa ika temenin.

Percakapan singkat yang membuat sang anak semakin menyadari betapa luar biasa cinta dan kasih sayangnya kepada istri dan anak-anaknya.



Bapak super hebat… Ika sayang bapak. Semoga Ika juga bisa menyayangi keluarga seperti bapak bahkan lebih dari apa yang sudah bapak contohkan.

Semoga Allah selalu memberikan kesehatan, kebahagiaan, dan kasih sayang kepada bapak dan mamah. Semoga Allah selalu melindungi keduanya. Aamiin. ^_^

Jumat, 27 Mei 2011

Filosofi Masjid

Ups...maaf janjinya sedikit tidak ditepati. Abisnya gemes pengen ngepost tulisan ini di blog. Hehe...

Semua masjid selalu segar menyejukan meski mentari menyengat panas di luar sana. Bukan karena pendingin ruangan. Tapi karena atap yang lebih tinggi dari rumah biasa & puluhan jendela terbuka. Sehingga sepoi angin bebas menetap di dalamnya.
Buatlah cita - cita lebih tinggi dari kebanyakan orang. Maka ide dan semangat akan terus memasuki ruang dalam diri. Membuat sejuk hari meski kehidupan di luar sana panas.

dari Gina Najjah Hajidah.

Semoga bermanfaat. ^_^

Sepi

Sesuai judulnya...minggu ini jadi terasa sepi gini yah. Sms ke temen-temen dibalas seadanya kadang ngga sesuai sama harapan. Jadi sedih berasa monolog kadang atau berasa sedang dihindari sama temen-temen, dan berasa dicuekin. hahaha...lebay amat dah saya. Biasanya setiap hari ada aja sms atau telpon dari temen-temen. Dari yang penting sampe yang cuma "nyampah" atau curhat2an. Minggu ini sepi. Huhu...paling ada 1 atau 2 sms sehari. Ya ampun...sepi amat dah nih hp. mungkin lagi minggu UAS yah? Berasa sepi banget deh saya. Hmmm...tapi ngga apa2lah minggu depan saya yang akan menyepi. Biar ngga kaget lagi. Aih...Allah baik banget sama saya. Jadi...temen2 yang biasanya dapet sms "iseng" dari saya bersiap kesepian yah. haha..(PD banget dah). Karena seminggu ke depan saya akan menyepi yang benar-benar menyepi. Jangan harap ada update-an status di FB dan Twitter, sms atau telepon dari saya. Karena saya mau menyepi. Halah...apa sih gw. Kira-kira ada yang merasa kesepian atau merindukan saya ngga yah? hahaha...(ngarep dah). Hasil berbincang-bincang dengan teman di YM. Saya sudah berniat melakukannya. Mungkin YM bisalah tapi itu juga mau saya invis (emang udah biasa invis). Puasa dari jaringan sosial dan alat komunikasi. Gunakan seperlunya saja, bener-bener seperlunya dan yang penting aja. Kalo ada sms penyemangat masuk sih ngga apa2. Diharapkan banget malah (lagi2 ngarep). Mau fokus analisis, menyelesaikan si S, cepet sidang, dan lulus dengan hasil terbaik. Aamiin Yaa Allah.

Jadi...selamat menyepi untuk saya dan selamat menyimpan rindu untuk yang akan merindukan saya. hihihi...
saya hanya akan beredar sampai besok saja (karena ada undangan pernikahan dan syukuran hari lahir teman). Ngepost tulisan di blog terakhir sebelum menyepi. Insya Allah akan saya lanjutkan lagi ketika semua urusan dengan S selesai. Sampai jumpa... Kalo rindu bilang yah ;)