Ingin membuat hidup menjadi lebih hidup dengan menulis. Pengalaman, persahabatan, impian, dan luasnya lautan ilmu pengetahuan milikNya.
Kamis, 14 April 2011
Setangkup Doa dan Pesan Cinta untukNya
Allah, jika semua impian yang aku inginkan, jalan yang aku lalui, usaha yang aku lakukan semua adalah yang terbaik menurutMu untukku, untuk agamaku, untuk orang-orang di sekitarku maka mudahkanlah semua prosesnya, terangilah jalannya, dan bimbinglah aku menuju jalan itu.
Selasa, 12 April 2011
Monolog
Kamu mencintaiku? kamu ingin bersamaku? Kamu ingin mendapatkanku?
Kalau begitu biarkan aku bertanya kepadamu.
Kamu tahu siapa aku? apa yang kamu ketahui tentang diriku? apa yang kamu suka dariku? apa yang akan kamu lakukan untuk mendapatkanku? sejauh apa usaha yang telah kamu lakukan untukku?
Yap...dialog singkat dalam hati ini. Pertanyaan-pertanyaan yang timbul saat aku harus menjawab perasaanku sendiri. Perasaan terhadap impian-impianku. Impian untuk belajar bahasa di sebuah negara yang namanya tercatat dalam sejarah Islam, Turki. Impian untuk menghasilkan sebuah skripsi dengan nilai A serta impian-impianku lainnya. Aku harus mampu menjawab semua pertanyaan-pertanyaan itu. Allah, peliharalah semangat ini agar selalu bersamaku, biarkanlah ia menemaniku berjuang menemukan jawaban-jawaban itu, dan menggapai semua impianku. Allah, Engkau tahu yanng terbaik untukku. Terangilah jalan terbaik menurutMu, mudahkanlah jalannya, dan kuatkanlah perjuangannya.
Kalau begitu biarkan aku bertanya kepadamu.
Kamu tahu siapa aku? apa yang kamu ketahui tentang diriku? apa yang kamu suka dariku? apa yang akan kamu lakukan untuk mendapatkanku? sejauh apa usaha yang telah kamu lakukan untukku?
Yap...dialog singkat dalam hati ini. Pertanyaan-pertanyaan yang timbul saat aku harus menjawab perasaanku sendiri. Perasaan terhadap impian-impianku. Impian untuk belajar bahasa di sebuah negara yang namanya tercatat dalam sejarah Islam, Turki. Impian untuk menghasilkan sebuah skripsi dengan nilai A serta impian-impianku lainnya. Aku harus mampu menjawab semua pertanyaan-pertanyaan itu. Allah, peliharalah semangat ini agar selalu bersamaku, biarkanlah ia menemaniku berjuang menemukan jawaban-jawaban itu, dan menggapai semua impianku. Allah, Engkau tahu yanng terbaik untukku. Terangilah jalan terbaik menurutMu, mudahkanlah jalannya, dan kuatkanlah perjuangannya.
Selasa, 05 April 2011
April's Tulip in Turkey
Everybody thinks that tulips come from Holland. Actually, Tulips are native to Central Asia and Turkey. In the 16th Century they were brought to Holland from Turkey, and quickly became widely popular. Today Tulips are cultivated in Holland in great numbers and in huge fields. Dutch bulbs, including tulips and daffodils, are exported all around the world so people think that it's originated from there as well. In fact many cultivated varieties were widely grown in Turkey long before they were introduced to European gardens.
In the 17th century the overgrown interest and high popularity of Tulips brought a sort of "Tulipmania" in Holland. Especially in 1637 bulbs were highly praised and prices gone up day by day reaching extraordinary numbers. Bulbs were sold by weight, usually while they were still in the ground. Some examples could cost more than a house at this time. The Dutch government unsuccessfully tried to outlaw this commerce but couldn't do anything to stop it, the trade was all about access and demand. But the end of the game came quick: Over-supply led to lower prices and dealers went bankrupt and many people lost their savings because of the trade, and the tulip market crashed.
Also in the Turkish history tulips played an interesting role. The period in our history between 1718-1730 is called the "Tulip Era", under the reign of sultan Ahmed III. This period is also expressed as an era of peace and enjoyment. Tulips became and important style of life within the arts, folklore and the daily life. Many embroidery and textile clothing handmade by woman, carpets, tiles, miniatures etc. had tulip designs or shapes, large tulip gardens around the Golden Horn were frequented by upscale people, and so on. Also, the first printing house was founded by Ibrahim Müteferrika in Istanbul. The Tulip Era was brought to an end after the Patrona Halil revolt in 1730, ending with the de-thronation of the Sultan.
The botanical name for tulips, Tulipa, is derived from the Turkish word "tulbend" or "turban", which the flower resembles. It's considered as the King of Bulbs.
There are early, mid, and late blooming varieties of tulips. They come in a huge variety of bright colors, including white, yellow, pink, red, black, purple, orange, bi-colors, and more. There is a profusion of mixed colours to select from, too. A special breed from Manisa is called as Anemon.
Tulips should be planted as soon as they are purchased in the Autumn. But they can also be forced to bloom indoors during winter months. After blooming, let the plant continue to grow until it dies off. During the post bloom period, the plant is sending energy to the bulb to store for use next spring.
http://www.allaboutturkey.com/tulip.htm
In the 17th century the overgrown interest and high popularity of Tulips brought a sort of "Tulipmania" in Holland. Especially in 1637 bulbs were highly praised and prices gone up day by day reaching extraordinary numbers. Bulbs were sold by weight, usually while they were still in the ground. Some examples could cost more than a house at this time. The Dutch government unsuccessfully tried to outlaw this commerce but couldn't do anything to stop it, the trade was all about access and demand. But the end of the game came quick: Over-supply led to lower prices and dealers went bankrupt and many people lost their savings because of the trade, and the tulip market crashed.
Also in the Turkish history tulips played an interesting role. The period in our history between 1718-1730 is called the "Tulip Era", under the reign of sultan Ahmed III. This period is also expressed as an era of peace and enjoyment. Tulips became and important style of life within the arts, folklore and the daily life. Many embroidery and textile clothing handmade by woman, carpets, tiles, miniatures etc. had tulip designs or shapes, large tulip gardens around the Golden Horn were frequented by upscale people, and so on. Also, the first printing house was founded by Ibrahim Müteferrika in Istanbul. The Tulip Era was brought to an end after the Patrona Halil revolt in 1730, ending with the de-thronation of the Sultan.
The botanical name for tulips, Tulipa, is derived from the Turkish word "tulbend" or "turban", which the flower resembles. It's considered as the King of Bulbs.
There are early, mid, and late blooming varieties of tulips. They come in a huge variety of bright colors, including white, yellow, pink, red, black, purple, orange, bi-colors, and more. There is a profusion of mixed colours to select from, too. A special breed from Manisa is called as Anemon.
Tulips should be planted as soon as they are purchased in the Autumn. But they can also be forced to bloom indoors during winter months. After blooming, let the plant continue to grow until it dies off. During the post bloom period, the plant is sending energy to the bulb to store for use next spring.
http://www.allaboutturkey.com/tulip.htm
Minggu, 03 April 2011
Medical Check Up
Hey…saya mau cerita tentang pengalaman Medical Check Up. Hari Jumat, 01 April 2011 lalu saya melakukan medical check up di salah satu rumah sakit di daerah Jakarta Timur. Dengan mengeluarkan biaya sebesar Rp. 150.000,00, saya sudah bisa melakukan tes darah lengkap, urine lengkap, rontgen, dan pemeriksaan fisik oleh dokter umum.
Pukul 10.00 saya sudah tiba di rumah sakit itu. Saya berangkat sendiri. Ketika tiba di rumah sakit saya langsung menuju meja security untuk menanyakan lokasi medical check up. Seorang bapak yang menempati tempat itu pun akhirnya memberikan petunjuk lokasinya kepada saya. Kaki saya segera melangkah ke tempat tersebut. Pintunya tertutup dan tidak ada petugas di depan meja informasinya. Saya kemudian mengetuk pintunya. Terdengar suara seorang perempuan dari arah dalam. Rupanya seorang perempuan petugas ruang medical check up. Dia yang kemudian mengantarkan saya ke kasir untuk melunasi pembayaran terlebih dahulu, ke laboratorium untuk ambil darah dan urine, rontgen, dan pemeriksaan fisik oleh dokter umum. Sebelum melunasi pembayaran, petugas tersebut meminta saya mengisi data terlebih dahulu. Selesai mengisi data saya diajak menuju kasir untuk melunasi pembayaran. Selesai melunasi pembayaran saya diminta menunggu sekitar 3 menit di depan ruang medical check up. Petugas tersebut akan mendaftarkan tes darah dan urine saya ke laboratorium terlebih dahulu. Sambil menunggu saya membuka-buka hp dan facebook. Hehehe…menghilangkan ketakutan saya akan jarum suntik dan segala yang berbau pemeriksaan itu. Karena saya takut jarum. Terakhir tubuh saya disentuh jarum saat saya kelas 5 SD. Karena takutnya saya terhadap suntikan, saat saya kelas 1 SD, nenek saya datang ke sekolah ketika saya akan disuntik beliau ingin meminta izin kepada guru saya agar saya tidak disuntik. Meski akhirnya kedatangan nenek terlambat. Tusukan semut jarum itu telah berhasil menembus paha Ika kecil. Huhu…sakitnya. Hingga seminggu setelah itu saya harus digendong bapak ketika hendak ke kamar mandi dan dibantu saat berjalan, diantar ke sekolah. Aih…berlebihan sekali rasanya saya saat itu. Mungkin stress karena dipaksa. Hahaha…
Medical check up pun dimulai. “Mba Riska, ambil darah dulu ya” suara petugas MCU memecahkan kenangan masa kecil yang saya sedang panggil kembali. Saya pun masuk ke dalam laboratorium. Saya mengulurkan tangan saya. Petugas lab meminta saya menggulung lengan baju saya. Saya diminta mengepal tangan saya, kemudian petugas mengikat dengan sebuah alat, menentukan bagian yang akan diambil darahnya, mengolesi alcohol, mengambil jarum, dan ketakutan itu pun dimulai. Saya memejamkan mata dan memalingkan wajah saya dari pemandangan menakutkan itu. Dan…ternyata tidak terasa. Hanya seperti gigitan semut dan seketika tabung sangat kecil sudah dipenuhi darah saya. Hahaha…Sukses. Saatnya mengambil sample urine. Kantong urine pun saya ambil. Selesai kantongnya terisi, saya menyerahkannya ke bagian laboratorium. Perjalanan selanjutnya adalah rontgen.
Saya diajak ke gedung yang berbeda dari gedung pertama. Saya diminta mengganti baju saya dengan baju rontgen dan diminta melepaskan pakaian atas saya. Hmm...sereeeemmm. Dalam sekejap saya pun mengganti pakaian saya dengan pakaian rontgen. Saya diminta bernafas normal dan menahan nafas sekitar 3 kali. Ya…selesai. Kata petugasnya. Saya segera mengganti pakaian saya yang semula. Kemudian menuju proses selanjutnya.
Pemeriksaan fisik oleh dokter umum. Sebelum masuk ke ruangan dokter, ada suster yang memeriksa tekanan darah saya, berat badan, dan tinggi badan terlebih dahulu. Karena masih ada pasien, saya diminta menunggu. Sekitar 5 menit saya menunggu, akhirnya tiba giliran saya. Yap…dokternya cewe dan berjilbab. Alhamdulillah. Di ruangan itu, dokter menanyakan tentang riwayat penyakit yang saya pernah alami, pernah dirawat di rumah sakit atau tidak (tidak), penyakit berat (tidak), dan lain-lain. Kemudian saya diminta berbaring di tempat pemeriksaan. Denyut jantung, telinga, mata, tenggorokan, perut, kaki, dll diperiksa oleh dokter itu. “Sudah”, Ucap dokter kepada saya. Kemudian dokter menuliskan beberapa point hasil pemeriksaan yang saya sendiri tidak tahu apa isi tulisannya karena terlalu kecil. “Sudah selesai, ini tolong kasih suster yang di depan ya Mba Riska”, pesan dokter.
Selesai…akhirnya saya sudah menyelesaikan medical check up saya yang pertama. Oiya, saya juga sudah mengajukan tes golongan darah sekalian. Karena saya memang belum pernah periksa golongan darah. Hehehe…parah banget sih karena tidak suka mendengar kata jarum suntik dan darah. Alhamdulillah, Allah selalu memberikan saya kesehatan dan membuat saya tidak akrab dengan kata-kata itu, dan tidak membuat saya harus berhubungan dengan kata-kata itu.
Ada satu hal yang membuat saya jadi ketagihan. Ups….bukan ketagihan juga sih. Saya jadi ingin melakukan pemeriksaaan kesehatan yang lebih lengkap, yang paling lengkap malah. Agar saya bisa memantau kondisi kesehatan saya. Medical check up memang perlu dilakukan secara rutin. Semoga Allah melimpahkan rezeki untuk melakukan MCU yang lain. Minimal setahun sekali dari brosur yang saya baca. Kesehatan itu penting, karenanya jaga kesehatan ya!
Pukul 10.00 saya sudah tiba di rumah sakit itu. Saya berangkat sendiri. Ketika tiba di rumah sakit saya langsung menuju meja security untuk menanyakan lokasi medical check up. Seorang bapak yang menempati tempat itu pun akhirnya memberikan petunjuk lokasinya kepada saya. Kaki saya segera melangkah ke tempat tersebut. Pintunya tertutup dan tidak ada petugas di depan meja informasinya. Saya kemudian mengetuk pintunya. Terdengar suara seorang perempuan dari arah dalam. Rupanya seorang perempuan petugas ruang medical check up. Dia yang kemudian mengantarkan saya ke kasir untuk melunasi pembayaran terlebih dahulu, ke laboratorium untuk ambil darah dan urine, rontgen, dan pemeriksaan fisik oleh dokter umum. Sebelum melunasi pembayaran, petugas tersebut meminta saya mengisi data terlebih dahulu. Selesai mengisi data saya diajak menuju kasir untuk melunasi pembayaran. Selesai melunasi pembayaran saya diminta menunggu sekitar 3 menit di depan ruang medical check up. Petugas tersebut akan mendaftarkan tes darah dan urine saya ke laboratorium terlebih dahulu. Sambil menunggu saya membuka-buka hp dan facebook. Hehehe…menghilangkan ketakutan saya akan jarum suntik dan segala yang berbau pemeriksaan itu. Karena saya takut jarum. Terakhir tubuh saya disentuh jarum saat saya kelas 5 SD. Karena takutnya saya terhadap suntikan, saat saya kelas 1 SD, nenek saya datang ke sekolah ketika saya akan disuntik beliau ingin meminta izin kepada guru saya agar saya tidak disuntik. Meski akhirnya kedatangan nenek terlambat. Tusukan semut jarum itu telah berhasil menembus paha Ika kecil. Huhu…sakitnya. Hingga seminggu setelah itu saya harus digendong bapak ketika hendak ke kamar mandi dan dibantu saat berjalan, diantar ke sekolah. Aih…berlebihan sekali rasanya saya saat itu. Mungkin stress karena dipaksa. Hahaha…
Medical check up pun dimulai. “Mba Riska, ambil darah dulu ya” suara petugas MCU memecahkan kenangan masa kecil yang saya sedang panggil kembali. Saya pun masuk ke dalam laboratorium. Saya mengulurkan tangan saya. Petugas lab meminta saya menggulung lengan baju saya. Saya diminta mengepal tangan saya, kemudian petugas mengikat dengan sebuah alat, menentukan bagian yang akan diambil darahnya, mengolesi alcohol, mengambil jarum, dan ketakutan itu pun dimulai. Saya memejamkan mata dan memalingkan wajah saya dari pemandangan menakutkan itu. Dan…ternyata tidak terasa. Hanya seperti gigitan semut dan seketika tabung sangat kecil sudah dipenuhi darah saya. Hahaha…Sukses. Saatnya mengambil sample urine. Kantong urine pun saya ambil. Selesai kantongnya terisi, saya menyerahkannya ke bagian laboratorium. Perjalanan selanjutnya adalah rontgen.
Saya diajak ke gedung yang berbeda dari gedung pertama. Saya diminta mengganti baju saya dengan baju rontgen dan diminta melepaskan pakaian atas saya. Hmm...sereeeemmm. Dalam sekejap saya pun mengganti pakaian saya dengan pakaian rontgen. Saya diminta bernafas normal dan menahan nafas sekitar 3 kali. Ya…selesai. Kata petugasnya. Saya segera mengganti pakaian saya yang semula. Kemudian menuju proses selanjutnya.
Pemeriksaan fisik oleh dokter umum. Sebelum masuk ke ruangan dokter, ada suster yang memeriksa tekanan darah saya, berat badan, dan tinggi badan terlebih dahulu. Karena masih ada pasien, saya diminta menunggu. Sekitar 5 menit saya menunggu, akhirnya tiba giliran saya. Yap…dokternya cewe dan berjilbab. Alhamdulillah. Di ruangan itu, dokter menanyakan tentang riwayat penyakit yang saya pernah alami, pernah dirawat di rumah sakit atau tidak (tidak), penyakit berat (tidak), dan lain-lain. Kemudian saya diminta berbaring di tempat pemeriksaan. Denyut jantung, telinga, mata, tenggorokan, perut, kaki, dll diperiksa oleh dokter itu. “Sudah”, Ucap dokter kepada saya. Kemudian dokter menuliskan beberapa point hasil pemeriksaan yang saya sendiri tidak tahu apa isi tulisannya karena terlalu kecil. “Sudah selesai, ini tolong kasih suster yang di depan ya Mba Riska”, pesan dokter.
Selesai…akhirnya saya sudah menyelesaikan medical check up saya yang pertama. Oiya, saya juga sudah mengajukan tes golongan darah sekalian. Karena saya memang belum pernah periksa golongan darah. Hehehe…parah banget sih karena tidak suka mendengar kata jarum suntik dan darah. Alhamdulillah, Allah selalu memberikan saya kesehatan dan membuat saya tidak akrab dengan kata-kata itu, dan tidak membuat saya harus berhubungan dengan kata-kata itu.
Ada satu hal yang membuat saya jadi ketagihan. Ups….bukan ketagihan juga sih. Saya jadi ingin melakukan pemeriksaaan kesehatan yang lebih lengkap, yang paling lengkap malah. Agar saya bisa memantau kondisi kesehatan saya. Medical check up memang perlu dilakukan secara rutin. Semoga Allah melimpahkan rezeki untuk melakukan MCU yang lain. Minimal setahun sekali dari brosur yang saya baca. Kesehatan itu penting, karenanya jaga kesehatan ya!
Kesal dan Marah
Hati kita tidak akan terluka oleh apapun jika kita tidak pernah mengizinkannya.
Selalu dan selalu saya mencoba melakukan itu. Tapi saya tetap manusia yang pasti pernah merasa kesal, marah, kecewa, ataupun sakit hati. Kadang menyesakkan jika kesal, marah, kecewa, ataupun sakit hati pada seseorang bagi saya. Sakit hati atau kecewa mungkin amat sangat jarang dirasakan. Tapi kesal atau marah bisa dikatakan beberapa kali terjadi bahkan sangat dekat. Piuh...taukah...saya sangat sedih ketika harus membiarkan hati ini merasakan marah atau kesal pada seseorang. "Kenapa marah ka? ngga apa-apa kok. Jangan membebani hati dengan marah atau kesal pada seseorang". Itulah kata-kata yang saya ucapkan pada diri saya sendiri saat saya mengalaminya. Sepertinya bukan tidak bisa, tapi saya yang belum bisa merelakan menerima begitu saja perlakuan egois seseorang atau perkataan seseorang yang tidak berkenan di hati saya. Akhirnya kadang saya menangis karena telah kesal atau marah kepada seseorang. Kenapa saya harus membiarkan itu terjadi.
Saya masih harus banyak belajar. Belajar membuat hati ini sehat.
Selalu dan selalu saya mencoba melakukan itu. Tapi saya tetap manusia yang pasti pernah merasa kesal, marah, kecewa, ataupun sakit hati. Kadang menyesakkan jika kesal, marah, kecewa, ataupun sakit hati pada seseorang bagi saya. Sakit hati atau kecewa mungkin amat sangat jarang dirasakan. Tapi kesal atau marah bisa dikatakan beberapa kali terjadi bahkan sangat dekat. Piuh...taukah...saya sangat sedih ketika harus membiarkan hati ini merasakan marah atau kesal pada seseorang. "Kenapa marah ka? ngga apa-apa kok. Jangan membebani hati dengan marah atau kesal pada seseorang". Itulah kata-kata yang saya ucapkan pada diri saya sendiri saat saya mengalaminya. Sepertinya bukan tidak bisa, tapi saya yang belum bisa merelakan menerima begitu saja perlakuan egois seseorang atau perkataan seseorang yang tidak berkenan di hati saya. Akhirnya kadang saya menangis karena telah kesal atau marah kepada seseorang. Kenapa saya harus membiarkan itu terjadi.
Saya masih harus banyak belajar. Belajar membuat hati ini sehat.
Langganan:
Postingan (Atom)
