Senin, 23 Mei 2011

Kita, Tulus Bagai Angin

Malam ini mendapat pesan singkat (lumayan panjang sih) dari seorang teman. Indaaaahhhh sekali (menurut saya). Hehe...Semoga dapat memberi manfaat untuk yang membaca. ^_^

Bisakah kita seperti angin?
Memberi tanpa terlihat
Membuat daun menari
Membantu bunga saling tukar serbuk sari

Bisakah kita seperti angin?
Mengajak awan tuk ciptakan hujan
Mengangkat uap air tuk redupkan awan
Menggeser awan tuk tebarkan sinar mentari

Bisakah kita seperti angin?
Memberi kebahagiaan pada dedaunan
Berkarya hujan bersama awan
Memberi kehidupan pada kupu-kupu
Memberi energi pada bunga-bunga

Begitulah sahabat
Tulus memberi tanpa terlihat
Menguatkan di saat lemah
Bersama membuat karya
Memberi kebahagiaan dengan bahasa tanpa kata
Hingga akhirnya kita tetap bisa mendengar gemericik air hujan dan melihat tanah yang basah
Tanpa harus melihat angin yang membuat semuanya terjadi.


Gina Najjah Hajidah



Hmmm...bagussss sekali menurut saya. Angin memang tidak dapat terlihat. Tapi kita dapat merasakan kehadirannya. Mungkin seperti itu juga kebaikan-kebaikan dari orang yang menyayangi kita tidak harus berwujud dan terlihat oleh mata kita. Bukankah kebaikan itu dapat dirasakan oleh hati dan diri kita? Ketulusan, keikhlasan, cinta, dan kasih sayang semua itu tidak selalu memiliki wujud tapi dapat dirasakan kehadirannya.

Minggu, 22 Mei 2011

Tentang si "S"

Siapa sih "S" itu??? hahaha... "S" itu biasanya tugas mahasiswa tingkat akhir. hehe...saat ini sedang dilanda virus galau/stress/pusing/insomnia karena "S". Rasanya ingin kembali ke awal tahun atau semester lalu aja deh (ga mungkin bangetttt).

Sepertinya saya memang kurang fokus, kurang mencurahkan perhatian dan konsentrasi saya ke si "S". Kalau mau ngerjain kebanyakan mencla-menclenya. Kalau OL kebanyakan mainnya. Kalau bicarain kebanyakan ngobrolin yang anehnya. Haduh...gawat deh. Ini yang membuat saya sekarang terlunta-lunta (hayah...lebay). Bimbingan banyak yang ngga dimanfaatkan dengan maksimal. Jadi merasa jadi manusia yang kurang bersyukur, kurang memanfaatkan kesempatan baik yang diberikan. Ya Allah...ampuni aku. Hiks...hiks...

Saya jadi ingat, saya pernah berjanji untuk membuat si "S" menjadi sahabat saya. Saya ingin dia menjadi sahabat yang membuat hari-hari saya bahagia bukan alasan/beban untuk lepas dari dunia normal saya. Tapi saat ini saya malah nyaris melakukan itu padanya. Maafkan saya "S". Terlalu banyak berbicara (mengeluhkah???ya Allah ngga mau). Waktunya tidak lama lagi...Talk Less Do More. Cuma itu yang harus saya lakukan. Terus bergerak... Terus bergerak... Terus bergerak... dan TERUS BERGERAK!!!

Cepat selesai "S"-ku sayang. :)

Selasa, 17 Mei 2011

Terus Bergerak

Teruslah bergerak seperti jantung. Tak butuh disebut-sebut, tak butuh dipuji-puji, dan tak butuh disaksikan. Terus bergerak, terus bergerak,dan terus bergerak. Hingga Allah sendiri yang memutuskan kapan harus berhenti.

Achmad Lutfi

Rabu, 11 Mei 2011

Apa dong judulnya?

Iseng...
belum ngantuk. Ngerjain skripsi ngga kepengen. Sms-an atau teleponan sama siapa? iseng2an sama siapa juga dah udah dini hari gini. Solat malam...itu pilihan tepat sepertinya. Tapi kaki ini tidak begitu ringan untuk melangkahkan kaki ke luar kamar dan mengambil air wudhu. Alhasil menghidupkan laptop, ngga niat FB-an dan twitter-an juga. Ngeblog sepertinya lebih enak. Ngepost2 ngga karuan deh...jadi pengen bilang ke seseorang, "Aku suka kamu". Jiah...apa coba???Udah ah...kayaknya makin ngga jelas nih. Mau berusaha tidur. Semoga bisa bermimpi indah. Mimpi tentangku, tentangnya, tentangmu, dan tentang dunia. Hehehe...
dan semoga hari ini menjadi hari yang indah. Peserta terpenuhi (lagi-lagi berharap tentang hal ini) dan semuanya dipermudah. Aamiin. ^_^
Selamat tidur, Riska. Have a nice dream.

Rumeysa

Sudah dua hari ini setiap pukul 4 sampai 6 sore saya pergi ke Pesona Khayangan. DY5, rumah mungil itu tempat saya mengajar Rumeysa. Anak berusia 7 tahun, dengan mata indah, hidung mancung, kulit putih, dan rambut ikal. Saya menggantikan teman saya Savira yang sedang sakit. Dia memanggil saya dengan sapaan, “Riska abla” yang berarti kak Riska dalam bahasa Turki. Saya mengajarkannya bahasa Indonesia dan membantunya mengerjakan pekerjaan rumah. Sebelumnya Savira pernah bercerita kepada saya bahwa Rumeysa itu manja, kalau belajar minta dipeluk dan dipangku. Ternyata hal itu tidak saja terjadi pada Savira. Hari Senin, hari pertama saya mengajar Rumeysa, dia menanyakan kepada saya kemana Savira abla? Lalu saya menjawab bahwa savira sedang sakit jadi tidak bisa mengajar. Kemudian dia bertanya lagi, “Sakit apa?”, saya bingung menjawabnya. Jika saya bilang sakit tifus dia pasti belum mengerti. Ketika tidak sengaja saya memegang kepada, dia langsung berkata, “Haaa…yaaa”. Yah…mungkin dia menemukan jawabannya sendiri.
Rumeysa adalah anak yang cerdas. Teman-teman saya yang setiap minggu belajar bahasa Turki dengan ibunya pun begitu menyukainya. Yah…dibalik wajahnya yang ekspresif dan penuh semangat itu, ternyata dia adalah anak yang super manja dan romantis. Dia juga suka ngambek. Kalau dia tidak bisa mengerjakan soal atau harus menulis jawaban yang terlalu panjang pasti dia ngambek. Langsung diam, menyilangkan tangan di dadanya, dan meletakkan pensilnya di meja. Alhasil…saya harus merayu dia atau membiarkan dia diam sejenak sambil membelai rambut atau mengelus punggungnya hingga dia sendiri yang memulai belajar kembali. Dia juga sangat suka diperhatikan. Di hari pertama saat saya sedang mengajarnya, tiba-tiba ada bunyi telepon dari handphone saya. Saya kemudian mengangkatnya dan berbicara sebentar. Ternyata dia cemburu melihat saya mengangkat telepon. Dia langsung diam dan memasang wajah kesalnya. Aih…Rumeysa ada-ada saja. Dia juga senang menulis kata-kata di selembar kertas. Dia menulis sebuah surat dalam bahasa Turki untuk Savira dan saya. Mungkin karena merasa dekat dan sering belajar dengan savira, dia menulis sebuah surat dalam bahasa Turki. Dia berkata bahwa dia ingin bersama savira, saya berusaha mendapatkannya ketika savira sakit. Hahaha…dasar anak itu. Padahal beberapa saat sebelumnya dia menulis kata-kata di buku saya yang artinya, kak Riska aku sangat mencintaimu. Kata-kata itu juga telah dituliskan olehnya untuk Savira.

2 Maret 2011